Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Di Ujung Senja

Gambar
Ilustrasi “Taukah kamu kenapa senja itu indah? Karena Tuhan merangkum semua keindahan hari itu pada senjanya Dan mama beruntung karena bisa melahirkan Senja dari rahim mama.” Itulah tiga kalimat terakhir dalam surat mama yang sampai sekarang membuatku tak merasa bersalah karena mama merelakan nyawanya demi melahirkanku. Papa tak pernah menganggapku bersalah. Katanya, aku sama seperti mama. Tapi dalam hal kehilangan aku sama seperti papa, sama-sama kehilangan orang yang sangat dicintainya. Hari ini, hembusan angin menyapaku bersama langit biru itu. Belum lima detik aku tiba di tempat ini, tapi senja langsung menampakkan wajahnya, bagai tahu cara terbaik untuk menghiburku. Sekilas bayangannya muncul, kembali ke waktu itu. Waktu dimana senyum pertamanya terlihat sangat indah, lebih indah dari semua senja yang pernah kulihat. --- Satu tahun lalu.. “Tumben langit cerah banget hari ini,” gumamku pelan. “Langit cerah karena dia tahu ada yang lagi nunggu senjanya,” jawab seorang laki-laki yang...

KOFIKU Lahirkan Buku Ke-Dua

Gambar
Kudus, Parist.id - Komunitas Fiksi Kudus (KOFIKU) kembali menggelar bedah buku. Setelah melahirkan buku kumpulan cerpen beberapa waktu lalu, kini komunitas yang digawangi oleh para penulis fiksi di kudus tersebut kembali muncul dengan sebuah buku kumpulan puisi, Minggu 17/9. Buku kumpulan puisi berjudul Kata Kota ini berisi sekumpulan puisi pilihan dari hasil lomba yang diadakan KOFIKU sebelumnya. Penyair senior dari Kudus Mukti Sutarman dan penulis muda Rey Husaini yang menjadi juri dalam lomba tersebut memilih 77 judul puisi dari 105 judul puisi yang diterima oleh panitia. Puisi tersebut ditulis oleh 63 penulis dari Kudus yang berasal dari latar belakang. Dari jumlah tersebut, dipilihlah 5 judul puisi sebagai juara. ANTUSIAS : Para Audiensi yang hadir dalam peluncuran dan Bedah Buku oleh Komunitas Fiksi Kudus, Minggu (17/9). FOTO : Mail/PARAGRAPHFOTO Juara harapan satu di raih oleh El Eyra dengan judul puisi Kliwon . Juara harapan dua dengan judul Gus jigang Ajaranku oleh Fari...

Kuncup Mekar “Bangunkan” Seniman Demak

Gambar
Pementasan Teater Kuncup Mekar Kudus mampu membangunkan kembali pegiat seni yang ada di Kabupaten Demak. Hal itu diungkapkan oleh Sutikno (41), Pegiat Teater Toh Demak pada diskusi ringan di Hotel Citra Alam Pondok Inap, Demak, Jumat (05/05) malam.  FOTO : MAEL/PARAGRAPHFOTO “Ini adalah pementasan teater pertama yang ada di lingkungan Kota sekaligus pukulan keras bagi pelaku seni yang ada di Kabupaten Demak khususnya yang Muda,” ungkap Sutikno. Dalam pementasan kali ini, Teater asal Gebog Kudus itu menyuguhkan naskah Chanda karya Teater Kuncup Mekar. Naskah “Chanda” bercerita tentang persoalan kekinian pada dunia bayi dan anak anak. Persoalan itu diantaranya ialah kegandrungan anak-anak sekarang yang lebih asyik memainkan gawai ketimbang permainan tradisional. Tembak-tembakan, kuda lumping jadi-jadian dari daun pisang, juga sepeda roda 3 yang sudah mulai ditinggalkan. Itu sekaligus meneguhkan bahwa mainan khas anak-anak mulai ditinggalkan. FOTO : MAEL/PARAGRAPHFOTO Chanda juga men...

Isu Pasar yang Kembali Berkobar

Gambar
Pentas Produksi Teater Dewa Ruji  “Kobongan…Kobongan… Tolooong…” teriak Lek Paidi. Tidak maklum diketahui bahwa terbakarnya pasar tidak lah murni adanya kecelakaan. Sebagian justru terjadi karena sebab ulah yang sengaja. Itu karena ada niatan mengejar target pembangunan dan relokasi sebagaimana kehendak penguasa. Rakyat jelata hanya mampu meratap, melihat fakta adanya tarik ulur kepentingan. Mereka hanya bisa melawan semampunya, meski akhirnya kalah jua.    Penggenjotan pembangunan pasar yang kini marak dilakukan oleh pemerintah menuai kritik dari Teater Dewa Ruji. Melalui seni teater Dewa Ruji mencoba memberi nilai bahwa penggusuran dan pemindahan pasar bukanlah suatu jalan terbaik. Kelompok teater dari kaki gunung Muria ini menampilkan pementasan naskah Pasar Kobar karya Eko Tunas di Auditorium Universitas Muria Kudus pada Rabu (03/05). Naskah itu berkisah tentang perlawanan kaum urban yang menolak pembangunan dan penggusuran pasar. Lek Paidi, sebagai sesepuh pasar dan...

Nikah Senja dan Kamboja

Gambar
Istimewa Senja yang merah. Senja yang menyiratkan kekalahan siang. Atau hanya sekedar waktu bertemu dan kawin antara siang dan malam, cahaya dan gelap, yang nyata dan yang maya, mungkin juga aku dan kau. Senja itu, tiba-tiba kau memintaku menemuimu di taman kota. Tak biasanya. Biasanya kau memintaku langsung ke rumahmu, atau paling tidak menemuimu di rumah, baru memutuskan ke suatu tempat untuk melanjutkan obrolan kita, memperpanjang kisah intim kita. Kali ini rumah tak cukup ramah bagimu ku kira. Ya, aku akan menemuimu. Ya, karena kita telah punya ikatan. Kau adalah calon istriku. Sebulan lalu kita telah bertunangan bukan? Menjemput ke rumahmu pun akan aku lakukan, seperti biasanya. Tapi kenapa kali ini tidak? Aih, sudahlah. Mungkin kau ingin memberiku kejutan, atau ingin membuktikan kini kau sudah tak terlampau manja. Itu saja. Usia kita hanya terpaut dua tahun. Kemarin usiaku tepat genap kepala tiga. Tapi kau tetap gadis manja. Tak beda dengan anak SMA. Mungkin sifatmu tak beda keti...

Kenangan, Puisi Puisi Baidlowie

Gambar
http://mualafmenggugat.files.wordpress.com/2009/05/tangan-merpati.jpg “Pada suatu malam” Pada suatu malam Ketika angin enggan menggoyangkan dedaunan Ragaku meringkih penuh pesakitan Ruhku melayang ditelan kesunyian Di bawah pohon kamboja Yang ditanam bapak sewaktu masih ada Aku masih merenung sendiri Mencari kesejatian hidup yang abadi Nampak gelap mulai menyusup semakin dalam Menjadi gumpalan hitam,bias tak berujung arah Perlahan kegamanganku merangsek dalam pikiranku Mengobrak abrik pemahamanku tentang dunia Tentang kehidupan Tentang K E M A T I A N Halusinasiku semakin menjadi-jadi Dalam ruang hampa Suara perkutut milik tetangga menyadarkanku Bahwa hidup harus di jalani Sekali lagi “Menggulung layar” Seusai layar digulung Jejak-jejak keringat menetes diatas panggung Siluet kehidupan telah kita mainkan Peran demi peran Sorot lampu menukik tajam kini telah redup Kini tinggal sisa-sisa penghabisan dari kehidupan Manusia kembali dari lorong sandiwara “ Pukul 23:29 “ malam ini aku adal...